Putri Indah Ayuningrum

Program Studi Ilmu Kelautan -Universitas Padjadjaran-

Daftar Istilah-Istilah Mata kuliah Ekologi Laut Tropis 14 April 2010

Filed under: Marine Ecology — putrikelautan24 @ 05:30

  1. Abrasi : Pengikisan pantai oleh air laut
  2. Adaptasi : Penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungannya
  3. Algae : Rumput Laut, Tumbuh-tumbuhan laut yang merupakan tumbuhan berthalus (thallopyta) dan tidak berdaun, batang serta berakar tetapi menyerupai batang (thallus) yang hidup
  4. Arecaceae : Jenis mangrove yang berupa nypa, palem rawa, dll
  5. Atmospheric Input : Atmosfer yang masuk ke alam/ke sebuah ekosisitem
  6. Autotrophic : Organisme yang mampu mensistesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dari bahan-bahan anorganik sederhana dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil)
  7. Avicenniaceae : Jenis mangrove yang berupa api-api, black mangrove dll
  8. Baku Mutu Laut : Ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air laut
  9. Benthos : Biota yang hidup diatas/didalam dasr laut yang terdiri dari tumbuhan maupun hewan
  10. Biocoenosis : Komponen biotik
  11. Biological Nitrogen Fixation : Fixsasi yang dilakukan karena didalam ekosistem itu miskin nutrien, sumber fixsasi ini dapat berasal dari bakteri
  12. Biosfer : Bagian bumi yang dapat menunjang kehidupan
  13. Biota : Tumbuh-tumbuhan, hewan dan mikroorganisme hidup
  14. Combretaceae : Jenis mangrove yang berupa teruntum, white mangrove, zaragoza mangrove, dll
  15. Danau : Sejumlah air (tawar atau asin) yang terakumulasi di suatu tempat yang cukup luas, yang dapat terjadi karena mencairnya gletser, aliran sungai, atau karena adanya mata air
  16. Dekomposer : Pengurai, biasanya berupa detritus
  17. Dekomposisi : Penguraian bahan anorganik
  18. Delta : Endapan di muara sungai yang terletak di lautan terbuka, pantai, atau danau, sebagai akibat dari berkurangnya laju aliran air saat memasuki laut
  19. Derah Pesisir : Wilayah peralihan antara laut dan daratan, kearah darat mencakup daerah yang mash terkena pengaruh percikan air laut/pasang, dan kearah laut mencakup daerah paparan benua
  20. Detrivor : Pemakan detritus
  21. Difusi : Berpindahnya/mengalirnya suatu zat dalam pelarut dari bagian yang berkonsentrasi tinggi ke rendah
  22. Diversitas : Keragaman
  23. Ekologi : Disiplin ilmu yang mempelajari tentang Ekosistem
  24. Ekosistem : Suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya
  25. Ekosistem Air Tawar : Ekosistem Akuatik dengan perairan air tawar misalnya kolam, danau, sungai, dan lainnya
  26. Ekosistem Akuatik : Ekosistem yang wilayahnya berupa perairan
  27. Ekosistem Alam : Ekosistem yang proses terjadinya memang merupakan aktivitas alam, tanpa bantuan manusia misalnya ekosistem laut, sungai, hutan alam, danau alam, dan lainnya
  28. Ekosistem Anthropogen : Ekosistem daratan yang merupkan ekosistem buatan misalnya sawah, kebun, dan lainnya
  29. Ekosistem Buatan : Ekosistem yang proses membutuhkan bantuan manusia misalnya sawah, kebun, hutan tanaman, tambak, bendungan
  30. Ekosistem Gurun : Ekosistem alam yang daerahnya berupa gurun
  31. Ekosistem Hutan : Ekosistem alam yang daerahnya berupa hutan
  32. Ekosistem Lautan : Ekosistem Akuatik dengan perairan air asin
  33. Ekosistem Padang Rumput : Ekosistem alam yang daerahnya berupa padang rumput
  34. Ekosistem Terestrial : Ekosistem yang wilayahnya berupa daratan
  35. Emigration : Emigrasi, berpindahnya suatu organisme ketempat lain
  36. Energi : Suatu aliran yang tidak dapat dimusnahkan, dan hanya berubah dari suatu bentuk ke bentuk lain
  37. Erosion : Erosi, Suatu proses pengkisan tanah dan tanah tersebut berpindah tempat oleh kekuatan angin, air atau gravitasi
  38. Estuari : Teluk di pesisir yang sebagian tertutup, tempat air tawar dan air laut bertemu dan becampur
  39. Eutrofik : Sifat (lingkungan) dengan sejumlah besar zat hara
  40. Evolusi : Perubahan sifat jenis secara perlahan-lahan (lama)
  41. Faktor Pembatas : Unsur-unsur seperti cahaya, suhu, dan nutrien dalam jumlah minimum atau maksimum, yang nantinya akan mempengaruhi proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup
  42. Feeding Ground : Tempat mencari makan
  43. Fitoplankton : Plankton yang berupa tumbuh-tumbuhan
  44. Formasi Geologik : Sebuah zonasi misalnya zonasi pada pegunungan, lereng pegunungan yang curam, lembah sungai
  45. Fosfat : Senyawa alam yang mempunyai dua bentuk yakni senyawa fosfat Organik (pada tumbuhan) dan senyawa fosfat Anorganik (air dan tanah)
  46. Fotosintesis : Proses reduksi CO2 dgan bantuan energi sinar matahari, yang hasl utamanya berupa karbohidrat (C6H12O6) dan hasil sampingan berupa air (H2O) dan oksigen O2
  47. Gaseous Losses : Pembuangan berupa gas
  48. Gelombang : Gerakan dari setiap partikel air laut yang berupa gerak longitudinal dan orbital secara bersamaan disebabkan oleh transmisi energi serta waktu (momentum) dalam artian impuls vibrasi melalui berbagai ragam bentuk materi
  49. Geocoenosis : Komponen abiotik
  50. Habitat : Tempat tinggal makhluk hidup
  51. Harvesting : Memanen
  52. Herbivora : Hewan pemakan tumbuh-tumbuhan
  53. Heterotropic : Organisme yang mampu menyusun kembali dan menguraikan bahan-bahan organik kompleks yang telah mati ke dalam senyawa anorganik sederhana
  54. Hukum Toleransi Shelford : Hukum yang menyatakan faktor-faktor lingkungan penting yang menjadi faktor pembatas minimum dan faktor pembatas maksimum
  55. Hutan Hujan : Sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya dan dengan banyak musim hujan
  56. Hutan Musim : Sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya dan dengan banyak musim gugur
  57. Hutan Savana : Sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya dan dengan banyak musim kemarau
  58. Iklim : Keadaan rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang,
  59. Immigration : Imigrasi, suatu tempat yang didatangi oleh organisme dari suatu tempat lain
  60. Individu : Organisme
  61. Integrated Coastal Zone Management (ICZM) : Pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pesisir dengan cara melakukan penilaian secara menyeluruh (Comprehensive assessment)
  62. Intrusi Air Laut : Masuknya air laut ke wilayah daratan
  63. Karnivora : Hewan pemakan daging
  64. Kelembaban : Konsentrasi uap air di udara
  65. Komponen Abiotik : Komponen yang terdiri dari benda tak hidup misalnya air, gas, dan tanah
  66. Komponen Biotik : Komponen yang terdiri dari benda hidup misalnya bakteri, plankton, benthos, dan ikan
  67. Komunitas : Kumpulan makhluk hidup (populasi) di suatu tempat
  68. Konsumen : Pemakan, Pemakai
  69. Konversi : Perubahan, pengubahan
  70. Lamun : Tumbuhan berbunga yang hidupnya terbenam di dalam laut
  71. Laut Kutub : Laut yang mempunyai masa produktifitasnya sangat pendek, dikarenakan intensitas cahaya matahari didaerah ini sangat kurang
  72. Laut Subtropis : Wilayah laut yang mendapatkan intensitas sinar matahari bervariasi menurut musim (dingin, semi, panas dan gugur)
  73. Laut Tropis : Wilayah laut yang menadapatkan sinar matahari terus menerus sepanjang tahun, hanya ada dua musim, hujan dan kemarau
  74. Leaching : Pelarutan
  75. Limbah Domestik : Limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga
  76. Lingkungan : Segala sesuatu yang mengadakan interaksi dengan sistem
  77. Lythraceae : Jenis mangrove yang berupa sonneratia
  78. Mamalia : Hewan yang meyusui
  79. Mangrove : Suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) yang mempunyai toleransi terhadap kadar garam (salinity) air laut
  80. Materi : Segala sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruang (mempunyai volume)
  81. Metode Transek Garis atau Line Intercept Transect (LIT) dan Petak contoh (Transect plot) : metode pencuplikan contoh populasi suatu komunitas dengan pendekatan petak contoh yang berada pada garis yang ditarik melewati wilayah ekosistem tersebut
  82. Musim : Cuaca
  83. Mutualisme : Kerbau dan beruang
  84. Nitrifikasi : Proses perubahan nitrit menjai nitrat oleh bakteri
  85. Nursery Ground : Daerah Asuhan
  86. Nutrien : Zat hara
  87. Omnivora : Hewan pemakan tumbuhan dan hewan (hewan pemakan segala)
  88. Parasitisme : Sebuah simbiosis yang salah satunya dirugikan dan yang lainnya diuntungkan misalnya pada simbiosis antara Hewan dan bekteri
  89. Pasang Surut : Suatu gerakan vertikal dari seluruh partikel masa air laut dari permukaan sampai bagian terdalam dari dasar laut yang disebabkan oleh pengaruh dari gaya tarik menarik antara bumi dan benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan
  90. pH : Derajat keasaman
  91. Plankton : Organisme yang hidup di bagian pelagik, mengapung, menghanyut/berenang sangat lemah dan tidak dapat melawan arus, dan terdiri dari Fitoplankton dan Zooplankton
  92. Populasi : Kumpulan organisme sejenis yang menempati daerah yang sama
  93. Predator : Hewan pemakan
  94. Produktifitas Primer : Laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang kaya energi dan senyawa anorganik
  95. Produsen : Penghasil makanan
  96. Relung/Niche : Sebuah konsep yang dikembangkan oleh Charles Elton (1927), yang berarti ruang/tempat yang ditinggali organisme, juga peranannya dalam komunitas, dan posisinya pada gradient lingkungan: temperatur, kelembaban, pH, tanah dan kondisi lain
  97. Respirasi : Pengeluaran
  98. Rhizophoraceae : Jenis mangrove yang berupa bakau, red mangrove, dll
  99. Salinitas : Jumlah total (gr) dari material padat termasuk garam NaCl yang terkandung dalam air laut sebanyak 1 (satu) kg
  100. Sawah : Lahan usaha pertanian yang secara fisik berpermukaan rata, dibatasi oleh pematang, serta dapat ditanami padi, palawija atau tanaman budidaya lainnya
  101. Sempadan Pantai Mangrove : Wilayah yang perhitungannya min.130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat
  102. Sempadan Sungai Mangrove : Wilayah yang perhitungannya 50 m ke arah kiri dan ke kanan dari garis pasang tertinggi air sungai yang masih dipengaruhi pasang surut air laut
  103. Senyawa Fosfat Anorganik : Senyawa fosfat yang terdapat pada air dan tanah
  104. Senyawa Fosfat Organik : Senyawa Fosfat yang terdapat pada tumbuhan dan hewan
  105. Sibernetik : Kontrol
  106. Siklus Biogeokimia : Siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke komponen biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik, tujuannya mengembalikan unsur atau senyawa yang telah terpakai sehingga dapat dipakai kembali, dan begitu seterusnya.
  107. Siklus Fosfor : Siklus biogeokimia dimana fosfor dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer dan atmosfer bumi
  108. Siklus Karbon : Siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer dan atmosfer bumi
  109. Siklus Nitrogen : Siklus biogeokimia dimana Nitrogen dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer dan atmosfer bumi
  110. Siklus : Suatu aktivitas yang berlangsung terus menerus
  111. Simbiosis Komensalisme : Hubungan yang saling menguntungkan misalnya simbiosis pada Anggrek dan tumbuhan
  112. Spawning Ground : Daerah Pemijahan
  113. Spesies : Jenis, takson terendah pada pembagian biota
  114. Suksesi Primer : Organisme mulai menempati wilayah baru yang belum ada kehidupan contohnya delta
  115. Suksesi Sekunder : Terjadi setelah komunitas yang ada menderita gangguan yang besar sebagai contoh sebuah komunitas klimaks (stabil) hancur karena terjadinya kebakaran hutan
  116. Temperatur : Suhu, Derajat panas suatu benda
  117. Terumbu Karang : Bangunan dari kapur yang dibentuk oleh hewan karang
  118. Topografi : Studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain seperti planet, satelit alami (bulan dan sebagainya) dan asteroid
  119. Trophic Level : (Tingkatan trofik) Tingkatan makan-memakan pada suatu ekosistem
  120. Waduk : Kolam besar tempat menyimpan air sediaan untuk berbagai kebutuhan, waduk dapat terjadi secara alami maupun dibuat manusia. waduk buatan dibangun dengan cara membuat bendungan yang lalu dialiri air sampai waduk tersebut penuh
  121. Weathering : Pelapukan
  122. Zooplakton : Plankton yang berupa hewan
 

EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR KAB. CIREBON 31 Maret 2010

Filed under: Marine Ecology — putrikelautan24 @ 07:04

Oleh : Rina Agustina Panjaitan & Putri Indah Ayuningrum

Kabupaten Cirebon merupakan salah satu daerah di pesisir pantai utara Pulau Jawa. Sebagian besar keadaan alam Kabupaten Cirebon merupakan daerah pantai dan perbukitan terutama daerah bagian utara, timur, dan barat, sedangkan daerah bagian selatan merupakan daerah perbukitan yang memiliki ketinggian antara 11-130 m dari permukaan laut. Kabupaten Cirebon terletak di antara 1080 40’-1080 BT dan 60 30’ – 70 00’ LS. Adapun batas wilayah Kabupaten Cirebon adalah sebagai berikut:

v  Sebelah utara: Kabupaten Indramayu, Kota Cirebon, dan Laut Jawa

v  Sebelah selatan: Kabupaten Kuningan

v  Sebelah timur: Kabupaten Brebes

v  Sebelah barat: Kabupaten Majalengka

Pengertian Mangrove

Mangrove merupakan bentuk tanaman pantai, estuari atau muara sungai, dan delta yang terletak di daerah tropis dan subtropis. Dengan demikian, mangrove merupakan suatu ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan. Mangrove akan membentuk hutan yang ekstensif dan produktif jika tmbuh pada kondisi lingkungan yang sesuai. Karena hidupnya di dekat pantai, mangrove sering juga dinamakan hutan pantai, hutan pasang surut, atau hutan payau. Hutan mangrove ditemukan tersebar hampir di setiap propinsi di Indonesia, dengan luas yang berbeda-beda.

Saat ini di wilayah Cirebon hutan mangrove hanya ada di Kecamatan Pangenan dan Losari. Luas arealnya hanya sekitar 70 hektare atau hanya 5,4 km garis pantai. Sisanya masih berbentuk tanah kosong bekas tambak, bahkan perumahan penduduk. Berdasarkan pantauan, dari 54 km garis pantai di wilayah Cirebon hanya ada 10% dari yang kondisinya baik dan masih ditumbuhi hutan mangrove. Selebihnya mengalami pendangkalan. yang antara lain disebabkan tumpukan sampah (yang terdiri dari plasik hingga kaleng) serta abrasi. Bahkan tidak hanya di tepi pantai sepanjang pesisir cirebon saja, tumpukan sampah pun ditemukan di hampir semua muara sungai di sepanjang pantai Cirebon, antara lain di muara Sungai Bondet, Kesenden, Cangkol, Mundu hingga Gebang.

Interaksi Di Ekosistem Mangrove

Sumbangan terbesar dari mangrove ialah menyediakan zat hara sehingga bukan hal yang asing lagi jika pada kawasan manggrove terdapat beraneka ragam organisme.

Pada ekosistem mangrove umumnya terdapat dua tipe rantai makanan yaitu rantai makanan langsung dan rantai makanan detritus. Di ekosistem mangrove, rantai makanan untuk biota perairan adalah rantai makanan detritus. Detritus diperoleh dari guguran daun mangrove yang jatuh ke perairan kemudian mengalami penguraian (dekomposisi) oleh amphipoda dan kepiting (Head, 1971; Sasekumar, 1984) dan berubah menjadi partikel kecil yang dilakukan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur (Fell et al., 1975; Cundel et al., 1979) dan penggunaan ulang partikel detrital (dalam wujud feses) oleh bermacam-macam detritivor (Odum dan Heald, 1975), diawali dengan invertebrata meiofauna dan diakhiri dengan suatu spesies semacam cacing, moluska, udang-udangan dan kepiting yang selanjutnya dalam siklus dimangsa oleh karnivora tingkat rendah. Rantai makanan diakhiri dengan karnivora tingkat tinggi seperti ikan besar, burung pemangsa, ular, atau manusia.

Fauna Mangrove

Gambar 4-1. Fauna perairan yang hidup di ekosistem mangrove (Bengen,2002)

Fauna yang terdapat di ekosistem mangrove merupakan perpaduan antara fauna ekosistem terestrial, peralihan, dan perairan.  Fauna terestrial kebanyakan hidup di pohon mangrove, sedangkan fauna peralihan dan perairan hidup di batang, akar mangrove dan kolom air. Beberapa fauna yang umum dijumpai di ekosistem mangrove adalah sebagai berikut:

Reptil

Beberapa spesies reptilia seperti biawak (Varanus salvatoe), ular belang (Boiga dendrophila), dan ular sanca (Phyton reticulates), serta berbagai spesies ular air seperti Cerbera rhynchops, Archrochordus granulatus, Homalopsis buccata dan Fordonia leucobalia ditemukan melingkar di batang, cabang, dan akar pohon mangrove.

Ampibia

Dua jenis katak yang dapat ditemukan di hutan mangrove adalah Rana cancrivora dan Rana Limnocharis.

Burung

Saat terjadinya perubahan pasang surut, saat itulah merupakan waktu yang cocok bagi burung untuk bermigrasi. Menurut Saenger et al. (1954), tercatat sejumlah jenis burung yang hidup di hutan mangrove yang mencapai 150-250 jenis, beberapa diantaranya adalah:

v  Burung air (Belekok, Ardeola speciosa), Onggok (Butorides striatus), dan kuntul kecil (Egretta garzetta)

v  Burung pemakan serangga, seperti kipasan (Rhipidura javanica), cici (Zosterops palpebrosus), dan rametuk laut (Gerygone sulphurea)

Burung-burung tersebut bergantung dari beberapa jenis biji-bijian yang dihasilkan dari hutan bakau.

Ikan

Ikan yang terdapat di hutan mangrove cukup beragam dan dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu:

v  Ikan penetap sejati, yaitu ikan yang seluruh siklus hidupnya dijalankan di daerah hutan mangrove seperti ikan Gelodok (Periopthalmus sp).

v  Ikan penetap sementara, yaitu ikan yang berasosiasi dengan hutan mangrove ketika masih berupa benih, tetapi pada saat dewasa cenderung menggerombol di sepanjang pantai yang berdekatan dengan hutan mangrove, seperti ikan belanak (Mugilidae), ikan kuweh (Carangidae), dan ikan kapasan, Lontong (Gerreidae).

v  Ikan pengunjung pada periode pasang, yaitu ikan yang berkunjung ke hutan mangrove pada saat air pasang untuk mencari makan, contohnya ikan kekemek, gelama, krot (Scianidae), ikan barakuda, alu-alu, tancak (Sphyraenidae), dan ikan-ikan dari familia Exocietidae serta Carangidae.

v  Ikan pengunjung musiman, yitu ikan-ikan yang menggunakan hutan mangrove sebagai tempat asuhan atau untuk memijah serta tempat perlindungan musiman dari predator.

Crustacea dan Moluska

Berbagai jenis fauna yang ukurannya relatif kecil dan tergolong dalam invertebrata, seperti udang dan kepiting (crustacea), gastropoda, dan bivalva (mollusca), cacing (polychaeta) hidup di hutan mangrove.  Kebanyakan invertebrata ini hidup menempel pada akar-akar mangrove, atau di dasar perairan hutan mangrove yang bersubstrat lumpur. Dengan cara ini mereka terlindung dari perubahan temperatur dan faktor lingkungan lain akibat adanya pasang surut di daerah hutan mangrove.

Konversi Hutan Mangrove

Hutan mangrove yang dulu mendominasi kawasan Pantai Bunga Lor dan berfungsi sebagai penahan angin laut dan gelombang, filter pembersih limbah dari darat dan laut, penahan intrusi air laut, tempat pemijahan ikan, sumber penyediaan pangan aneka biota laut, kini sudah habis dibabat untuk diubah menjadi tambak dan pemukiman penduduk.

Alasan alih fungsi hutan mangrove guna peruntukan ekonomi masyarakat sekitar menjadi faktor yang mendominasi terus berkurangnya luasan hutan mangrove di wilayah pesisir Cirebon ini, dan sebenarnya inisiator untuk alih fungsi lahan ini faktanya bukan berasal masyarakat dari wilayah Cirebon sendiri melainkan pengusaha-pengusaha dari Jakarta misalnya. Alih fungsi kawasan mangrove menjadi lahan tambak telah mengabaikan aspek kelestarian sumberdaya mangrove dan ekosistemnya. Perubahan lahan ini mengakibatkan banyak sekali akibat negatif selain nantinya tidak adanya barrier sebagai penahan erosi pantai, penahan angin laut dan gelombang, dalam hal ekonomi pun nelayan sangat dirugikan, jika mangrove dikonversi maka tempat memijah ikan-ikan hilang akibat konversi ini, akibatnya ikan-ikan sudah jauh dari pantai dan pada saat pantai surut, nelayan harus mendorong perahu ke laut dengan jarak antara 1-2 km. Hilang/berkurangnya tegakan mangrove akan menyebabkan hilang/berkurangnya pula berbagai jenis organisme perairan pantai dan hamparan lumpur, sehingga burung air yang tadinya mencari makan di perairan pantai dan hamparan lumpur kemudian akan mencari makan di lokasi tambak.

Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak hingga akhirnya menjadi perumahan penduduk atau pemukiman memberikan dampak yang sangat besar. Ada banyak spesies yang kehilangan habitat mereka akibat hal ini, terutama spesies perairan seperti ikan, crustacea, dan mollusca. Hewan-hewan predator tidak dapat lagi mencari makan, sehingga mereka pun pada akhirnya akan kehilangan habitat juga.

DAFTAR PUSTAKA

 

MENIGKATNYA AKTIVITAS MANUSIA = PERUBAHAN IKLIM 22 Desember 2009

Filed under: Meteorology — putrikelautan24 @ 05:04

Iklim Dulu, Saat Ini, Mendatang

Manusia merupakan makhluk yang memiliki kemampuan melakukan sesuatu, sudah sejak lama juga diketahui dari aktivitas ini juga dapat memberikan pengaruh positif maupun negative pada keadaan muka bumi ini. Bergesernya keseimbangan alam yang pada gilirannya mengahasilkan perubahan-perubahan yang mengarah pada kerusakan. Banyak factor lain yang meyebabkan perubahan iklim ini salah satunya jatuhan benda angkasa atau pun kedaan alamiah alam ini.

Seperti kalimat yang sering diucapkan oleh Winston Churcill “Tiba saatnya waktu menerima periode akibatnya..”, setidaknya kata-kata itu cukup sepadan dengan perkembangan aktivitas dari homo sapiens modern tadi terhadap alam ini. Sang ‘Global Warming’ ini sekarang sudah menunjukkan ke-eksistensiannya, dahulu yang prosesnya cendrung lambat dan hampir tidak diketahui keberadaanya, namun pada masa kini kita langsung dipertemukan pada dampaknya, yang beberapa contoh dampaknya yakni pergantian musim yang tidak menentu, hujan badai dimana-mana, banjir dan kekeringan terjadi dalam waktu yang bersamaan. Memang kadang kala kita harus merasakan sakit yang keras dulu untuk bisa sadar terhadap sesuatu yang sederhana namun fatal akibatnya.

Jika Iklim mengandung pengertian keadaan rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang, dan perubahan iklim sendiri pengertiannya yakni perubahan unsur-unsur cuaca tadi yang meliputi suhu, tekanan udara, dan curah hujan sebagai dampak dari sesuatu hal yang mengganggu keseimbangan alam ‘Global Warming’.

Revolusi Industri pada sekitar tahun 1750-an dianggap sebagai titik awal dari semakin jelasnya dampak dari kegiatan manusia pada perubahan alam ini (Wahyoe, et.al.2009). Pernyataan ini cukup relevan karena dari revolusi ini sumbangan emisi gas karbondioksida memicu terbentuknya efek rumah kaca dan juga cukup mempercepat kenaikan panas global dan tentunya masalah-masalah tentang perubahan iklim dunia ini.

Pada penemuan yang tercantum dalam laporan IPCC, yakni telah terjadi kenaikan suhu  rata-rata sebesar 0,76oC antara periode 1850-2005, lalu 11 dari 12 tahun terakhir (1995-2006) merupakan tahun-tahun dengan rata-rata suhu terpanas, sejak dilakukan pengukuran suhu pertama kali pada tahun 1850, telah terjadi kenaikan pemukaan air laut global rata-rata sebesar 1,8 mm/tahun antara periode 1961-2003, dan juga telah terjadi kekringan yang lebih intensif pada wilayah yang lebih luas sejak tahun 1970-an terutama di daerah tropis dan subtropis .

Dan proyeksi IPCC pada masa depan yakni, terjadi kenaikan suhu antara 1,8oC-4oC pada tahun 2100 dan terjadi kenaikan permukaan air laut antara 6,10 mm-0,59 mm/tahun. Akibat dari hal itu bisa sungguh fatal di mana diperkirakan Indonesia akan kehilangan 2.000 pulau, mundurnya garis pantai yang mengakibatkan luas wilayah Indonesia akan berkurang. Kenaikan muka air laut tidak hanya mengancam pesisir pantai tetapi juga di kawasan perkotaan.

Dari kajian tadi dapat kita garis bawahi memang kondisi alam ini bergerak kearah yang semakin kacau, walaupun sempat didapatkan foto dari luar angkasa yang menyebutkan bahwa sebenarnya bumi ini sudah semakin hijau dibanding waktu-waktu sebelumnya, namun disini apakah kita sudah merasakan dampak positifnya dari semakin hijaunya bumi ini, walaupun memang laporan tentang menghijaunya bumi ini saya dapatkan dari artikel-artikel di internet yang menurut saya belum tentu kebenarannya, namun dalam hal ini tetap saja sang ‘Global Warming’ masih selalu menjadi hantu yang selalu megiringi perubahan sang ‘Iklim’ bumi kita ini.

Indonesia pernah mengalami kekeringan terpanjang yaitu pada tahun 1997/1998 dan munculnya banjir yang meluas di Jakarta dan sekitarnya pada awal 2002. Sementara itu ada dua indikasi gejala alam global dan regional  yakni Elnino/Lanina dan Monsoon, yang telah menjadi bagian dari contoh perubahan iklim yang juga sudah muncul sekitar tahun 1991. Dampak dari ini semua dikhawatirkan tidak akan bisa kembali ke keadaan awal sebagai contoh es yang menyelimuti bumi telah berkurang 10 persen sejak tahun 1960 sementara ketebalan es di kutub utara berkurang 42 persen dalam 40 tahun terakhir. dan bahkan keadaan ini masih akan berlangsung untuk masa yang akan datang juga dalam bentuk yang lebih kompleks lagi. Penjelasan ‘kekacauan alam ini dapat berubah dimasa yang kan datang dalam bentuk yang lebih kompleks lagi’ menurut saya bukan hanya isapan jempol semata, hasil-hasil penelitian sudah jelas menggambarkan bahwasannya kondisi global untuk suhu selalu mengalami fase peningkatan, pergantian musim semakin membingungkan, wabah penyakit baru yang banyak bermunculan, sampai bencana-bencana alam yang kini mencapai capaian rekor-nya dalam hal kerusakan.

Diperkirakan  juga, jika tidak ada tindakan nyata mengenai damapk dari perubahan iklim ini maka tahun 2070, 50 persen dari 2,3 juta penduduk Jakarta Utara tidak lagi memiliki air minum akibat memburuknya kualitas air tanah karena instrusi air laut. Sementara itu pada buku yang diterbitkan mentri Negara lingkungan hidup disebutkan bahwa daerah pesisir yang rawan akan dampak kenaikan muka air laut sebagai akibat dari ‘Global Warming’ tadi, antara lain, Pantai Utara Jawa (Jakarta, Semarang, Surabaya), Pantai timur Sumatera, Pantai selatan, timur, dan barat Kalimantan, Pantai barat Sulawesi, dan daerah rawa di Papua yang terletak di pantai barat dan selatan.

Sekali saya tekankan disini manusia, memang bukan satu-satunya penyebab timbulnya kekacauan iklim kita sekarang ini, namun akibat aktivitas manusia yang paling terlihat memegang tanggung jawab terbesar dalam masalah ini. Disini kita hanya punya dua pilihan yaitu diam terhadap kekacauan alam di bumi ini atau bergerak dan gigih menurunkan gas emisi. Menurut beberapa artikel sebenarnya kita dapat menurunkan gas emisi hingga nol, kalimat ini bisa setidaknya menjadi kekuatan bagi kita bahwa sebenarnya dari tangan kita ini kita dapat mempertahankan tempat tinggal kita. Pada Protokol Kyoto sendiri mempunyai tujuan yakni mengurangi secara keseluruhan emisi 6 jenis GRK, yaitu karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (PFCs), dan sulfurheksafluorida (SF6). Bumi tempat kita bergembira, bersedih, saling menyayangi, saling membenci, saling bersaing, saling bekerja sama, setidaknya hingga sebelum manusia menghadap seutuhnya pada Yang Maha Kuasa apakah –Rela- kita diamkan untuk kerusakanya. Tiba lah nanti generasi anak kita berkata “Apakah yang dilakukan orang tua kita waktu itu saat masih diberikan kesempatan”(Al Gore, et al.2007).

Walaupun yang sekarang bisa kita lakukan hanya menyuarakan-menyuarakan tentang hal-hal diatas dan sekaligus mengambil bagian dalam hal ini, tanamlah pohon yang banyak, jika pada salah satu penelitian telah ditemukan bahwa pohon sebagai penyerap karbon dioksida hasil aktivitas manusia sudah mulai diragukan keampuhannya, saya merupakan salah satu orang yang tidak sepaham terhadap hal ini karena sesungguhnya pohon-pohon ini sudah menjadi korban terhadap kondisi alam yang tiak bersahabat ini, maka dari itu ayo  kita bantu mereka dengan menambah jumlah mereka, ’one man – one tree’ atau ’one man – much tree’, karena sejak dulu kita telah pahami bahwa sebagian manfaat pohon dapat mengurangi dampak ekstreem dari bencana yang timbul dari keadaan iklim yang ekstreem tadi juga memakai peralatan hemat energi hingga berdayakan angkutan umum atau berdayakan jalan kaki. Siap mengubah gaya hidup untuk kepentingan kita dan anak cucu kita..

 

Hello world! 13 Desember 2009

Filed under: Uncategorized — putrikelautan24 @ 07:36

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!